Sindrom putri tidur membuat remaja putri ini tertidur hingga 15 hari lamanya

Kisah remaja putri asal banjarmasin,mengalami sindrom putri tidur atau biasa dikenal dengan sindrom Kleine-Levin.

  • Menjaga kesehatan putra dan putri kesayangan tentu sudah menjadi hal utama dari setiap keluarga yang memiliki anak-anak. Manfaat dari hal tersebut adalah agar mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan sehat. Begitupun yang dilakukan oleh pasangan Mulyadi dan Lili dengan anaknya, Siti Raisa Miranda, atau yang biasa dipanggil Echa. Remaja putri 13 tahun asal Banjarmasin ini, menderita sindrom Kleine-Levin atau bisa dikenal dengan sebutan sindrom putri tidur. Penyakit ini menyebabkan Echa tidur dengan durasi yang sangat extreme bahkan hingga berhari-hari lamanya.

  • Echa saat berbaring tidur di kamarnya.

    Echa saat berbaring tidur di kamarnya.

  • Kedua orangtua Echa tidak habis pikir. Mereka bertanya-tanya soal penyakit apa yang sebenarnya sekarang dialami oleh Echa, karena sebelumnya Mulyadi (ayah Echa), merasa bahwa putrinya itu baik-baik saja. Bahkan Mulyadi sempat berjalan-jalan dengannya dan tidak sedikitpun Echa mengeluh tentang apa yang dirasakannya, baik di sekolah maupun saat di rumah. Namun 1 minggu setelahnya, Mulyadi merasakan perubahan yang drastis dialami oleh Echa, ia merasa buah hatinya itu seperti kehilangan gairah hidup. Mulai saat itu, yang dilakukan Echa hanyalah berbaring dan tidur.

  • Echa saat dijenguk teman-teman di sekolahnya.

    Echa saat dijenguk teman-teman di sekolahnya.

  • Segala pengobatan juga dilakukan oleh Mulyadi dan sang istri, mulai dari mengecek kesehatan Echa di Puskesmas hingga rumah sakit Anshari Saleh Banjarmasin. Mereka juga melakukan pengobatan non-medis seperti mengunjungi paranormal, sekadar untuk mengetahui penyebab munculnya gejala yang dirasakan Echa saat ini.

  • Echa pernah terbangun dari tidurnya, dan duduk terdiam dengan tatapan mata yang kosong, namun sesaat setelahnya itu Echa kembali tertidur.

  • Advertisement

  • Seperti dikutip dari TribunNews, dokter spesialis saraf RSUD Ulin Banjarmasin, dr Lily Runtuwene, mengatakan sindrom tersebut bisa terjadi disebabkan oleh mutasi gen dan itu adalah penyakit bawaan. “Mutasi gen adalah perubahan gen yang seharusnya A jadi B. Itu biasanya terjadi saat pembuahan dalam rahim ketika ibunya mengandung anak penderita sindrom ini,” ucapnya.

  • sumber : BBC Indonesia.
    Video : SCTV Liputan 6

  • sumber : keluarga.com


    loading...

    Tips Lainnya

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *


    *

    You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>