Penelitian Buktikan Pemberian Napas Buatan Dalam CPR Tidak Mempan. Apa Alasannya?

Penelitian Buktikan Pemberian Napas Buatan Dalam CPR Tidak Mempan

Resusitasi jantung dan paru (CPR/

Cardiopulmonary Resuscitation) adalah teknik penyelamatan nyawa yang biasa dilakukan dalam keadaan darurat. Misalnya serangan jantung atau saat tenggelam, di mana pernapasan atau detak jantung seseorang berhenti seluruhnya. Namun, belakangan ini sejumlah survei dan penelitian menunjukkan bahwa teknik ini sebenarnya tidak efektif untuk menolong seseorang. Apa benar begitu? Simak jawabannya di bawah ini.

Sebenarnya teknik CPR efektif apa tidak?

Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam prosedur CPR pada umumnya, yaitu kompresi dada (penekanan daerah dada) untuk mempertahankan sirkulasi darah dan pemberian napas buatan dari mulut ke mulut (mouth-to-mouth breathing) untuk mempertahankan suplai oksigen ke dalam tubuh korban.

Bantuan pernapasan dari mulut ke mulut (mouth-to-mouth CPR) jadi tidak efektif jika dilakukan oleh orang tanpa latar belakang medis atau tidak pernah mengikuti pelatihan CPR sebelumnya. Mengapa begitu? Teknik CPR ini harus dilakukan oleh orang yang sudah mengikuti training CPR, bukan hanya asal memberi napas dari mulut ke mulut seperti di film-film.

Tanpa pengetahuan dan pelatihan soal teknik resusitasi yang benar, CPR justru tidak membantu. Jangan salah, memberikan napas buatan dalam CPR itu tidak semudah yang terlihat di film atau acara televisi. CPR bukan sekadar memberikan napas ke mulut orang lain. Anda juga harus terus memantau kondisi korban, melakukan kompresi dada, dan tahu persis berapa hitungan detik untuk setiap langkahnya.

Bahkan, sebuah riset dalam Journal of the American Medical Association (JAMA) tahun 2012 menunjukkan bahwa dari seluruh korban yang menerima napas buatan CPR, hanya 2% yang akhirnya bisa diselamatkan dan pulih kembali.

Selama ini, tindakan pemberian napas dari mulut ke mulut dalam CPR memang cukup sulit dilakukan. Tidak semua orang dapat melakukannya dengan baik serta memerlukan latihan yang cukup. Bahkan para tenaga kesehatan yang sudah terlatih pun akan merasa kesulitan melakukannya apabila tidak rutin dilakukan.

Selain memerlukan kekuatan napas dan paru-paru dari penolong, tindakan ini juga berisiko untuk menularkan penyakit, khususnya penyakit pernapasan, dari korban kepada sang penolong maupun sebaliknya.

cpr

Pemberian napas buatan dari mulut ke mulut sebenarnya tidak perlu

Selama ini tindakan pemberian napas dari mulut ke mulut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari prosedur CPR. Namun, penelitian terbaru melaporkan bahwa prosedur CPR tanpa pemberian napas dari mulut ke mulut ternyata sama efektifnya dengan CPR standar yang biasa dilakukan.

Menurut dua penelitian yang diterbitkan oleh New England Journal of Medicine, teknik CPR yang hanya dilakukan dengan penekanan dada sudah cukup untuk menolong pasien, tanpa pemberian napas mulut ke mulut. Tidak ada perbedaan yang berarti mengenai tingkat keselamatan korban yang ditolong dengan kompresi dada saja dengan yang juga diberikan napas buatan.

Riset justru memperlihatkan bahwa teknik CPR dengan kompresi dada saja lebih efektif daripada CPR dengan kompresi dada dan napas buatan.

Penelitian yang dilakukan di Washington, Amerika Serikat (AS) menunjukkan bahwa tingkat keselamatan korban yang ditolong hanya dengan kompresi dada yaitu sebesar 12,5%. Sedangkan yang juga ditolong dengan napas buatan tingkat keberhasilannya lebih rendah, yaitu 11%.

Penelitian kedua di Swedia membuktikan bahwa tingkat keselamatan korban yang diberikan pertolongan CPR hanya dengan penekanan dada adalah sebesar 8,7%. Sedangkan dengan CPR standar adalah sebesar 7%.

Jadi, apa yang harus dilakukan dalam situasi darurat?

Bila Anda tidak memiliki latar belakang medis dan belum pernah ikut pelatihan teknik CPR, tidak perlu memberikan napas buatan saat menolong orang yang kehilangan kesadaran atau berhenti bernapas.

Anda cukup melakukan CPR dengan cara kompresi dada. Simak langkah-langkahnya dalam tautan ini atau di bit.ly/teknikCPR dan yang paling penting, segera cari bantuan medis darurat.

Baca Juga:

sumber : hellosehat.com


loading...

Tips Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>