Menyaksikan Bullying Saja Bisa Bikin Tertekan. Separah Itukah Kasus Bullying?

Menyaksikan Bullying Saja Bisa Bikin Tertekan

Sebuah studi yang diterbitkan dari American Psychologial Association meneliti seberapa besar kasus bullying (perisakan) berdampak pada kondisi emosi para pelaku, korban, bahkan saksi bullying. Hasilnya mengejutkan, dampak emosional yang paling terlihat justru dirasakan oleh saksi bullying. Mengapa bisa orang yang menyaksikan tindakan ini yang merasakan dampak emosional paling parah? Apakah bullying memang seserius itu? Cari tahu jawabannya di bawah ini. 

Saksi bullying merasa tertekan ketika melihat temannya di-bully

Pada penelitian ini, periset mengamati lebih dari 2.000 siswa berusia 12 sampai 16 tahun di 14 sekolah negeri di Inggris. Peneliti menggolongkan bullying atau perisakan sebagai intimidasi seperti memanggil nama dengan sebutan negatif, menendang, memukul, menyebarkan gosip, sampai memberikan ancaman.

Para siswa disuruh menunjukkan apakah mereka pernah melakukan perisakan, menyaksikan perisakan, atau bahkan menjadi korban. Penelitian ini dilakukan dalam jangka waktu 9 minggu.

Hasilnya, sebanyak 63 persen mengatakan bahwa mereka pernah menyaksikan teman mereka di-bully. Lalu 34 persen anak mengatakan mereka telah menjadi korban, dan 20 persennya lagi mengatakan mereka telah menjadi pelaku perisakan itu sendiri. Terakhir, sekitar 28 persen sisanya mengatakan bahwa mereka sama sekali tidak terlibat dalam kasus bullying

Selain hal di atas, para siswa juga diberi tanya jawab, seperti pernah atau tidak mereka mengalami gejala tekanan secara psikologis, apakah mereka dimusuhi kalau tidak ikut mem-bully, dan apa mereka merasa rendah diri setelah jadi korban.

Didapatkan sebuah hasil yang cukup mencengangkan, yakni anak yang menyaksikan tindakan bullying mendapat tekanan psikologis yang lebih besar jika dibandingkan dengan tekanan psikologis yang diterima oleh pelaku atau korban.

Penyebab dari tekanan psikologis itu terjadi adalah karena para saksi bullying mengaku kalau setelah melihat peristiwa intimidasi sesama teman, mereka khawatir akan menjadi target selanjutnya dari kasus bullying tersebut.

Penelitian sebelumnya juga telah menunjukkan, bahwa siswa yang menyaksikan tindakan bullying, namun tidak terlibat secara langsung, merasa bersalah karena tidak bisa menolong korban. Di mana perasaan bersalah ini makin bikin saksi bullying tambah merasa depresi.

Jadi, kasus bullying itu benar-benar berdampak pada setiap orang, bahkan yang cuma menyaksikan pun bisa merasa tertekan. Karena itu, kasus bullying menjadi beban yang harus ditanggung seluruh anggota komunitas di mana kasus tersebut muncul.

jenis bullying di sekolah

Apa yang bisa dan harus anak lakukan saat melihat kasus bullying?

Anda atau anak bisa melakukan beberapa hal sederhana seperti berikut ketika menyaksikan perisakan.

Ajari anak untuk tidak bergabung atau ikut tertawa

Terkadang anak-anak secara tidak sadar akan ikut tertawa atau bahkan ikut dalam perbuatan bullying ketika mereka melihat salah satu temannya diganggu. Jelaskan pada anak Anda bahwa tidak baik untuk ikut-ikutan, dan Anda mengharapkan anak untuk tidak bergabung dalam peristiwa bully tersebut.

Abaikan saja si tukang bully

Terkadang pelaku bullying hanya mencari perhatian sesaat. Jika tidak ada orang yang menontonnya, biasanya mereka akan berhenti. Beritahu anak-anak Anda bahwa terkadang yang dibutuhkan hanyalah membantu korban untuk menjauh dan meninggalkan si pengganggu.

Minta pelaku untuk berhenti

Biasanya, jika seorang pelaku bullying tidak mendapat dukungan atau sorakan dari keramaian, ia akan menghentikan perbuatannya. Yang jelas, hanya dibutuhkan satu atau dua orang untuk menunjukkan ketidaksetujuan untuk mengakhiri tindakan perisakan tersebut.

Anda bisa memberitahu anak-anak Anda untuk menggunakan metode ini hanya jika mereka merasa aman melakukannya. Jika pengganggu tersebut menimbulkan ancaman fisik, pilihan lain mungkin adalah untuk mencari pertolongan orang dewasa.

Minta bantuan

Beri pemahaman pada anak bahwa meminta bantuan orang dewasa bukan berarti anak otomatis jadi tukang mengadu. Jelaskan pada si kecil, kalau si tukang bully ini begitu “jagoan”, kenapa takut pada orang dewasa seperti guru dan orangtua? Jadi, tegaskan anak bahwa meminta bantuan orang dewasa untuk menengahi peristiwa bullying itu sudah jadi tanggung jawabnya.

Bela dan dukung korban

Terkadang cara terbaik untuk menghentikan bullying adalah menjadi teman korban. Faktanya, penelitian menunjukkan bahwa dengan memiliki setidaknya satu atau dua teman dekat, si tukang bully bisa merasa segan atau bahkan kalah jumlah. Beri anak Anda ide dan arahan tentang bagaimana menjadi teman bagi korban bullying. Misalnya dengan berjalan ke kantin, kelas, atau pulang bersama.

Baca Juga:

sumber : hellosehat.com


loading...

Tips Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>