Mengenal Bedanya Susu UHT, Pasteurisasi, Susu Bubuk dan Susu Kental Manis. Mana yang Paling Baik?

Mengenal Bedanya Susu UHT, Pasteurisasi, Susu Bubuk dan Susu Kental Manis

Minum susu di usia seperti kita sekarang memang sudah bukan jadi rutinitas lagi. Beda dengan saat masa kecil dulu di mana rasanya tiap hari selalu wajib minum susu. Padahal, kedewasaan seseorang bukanlah penghalang untuk tidak lagi minum susu, lho. Siapa juga yang mematenkan bahwa susu adalah minuman anak kecil? Justru semakin bertambah usia, sebaiknya kita tetap rajin minum susu. Tahu sendiri bahwa semakin ke sini, struktur tulang kita bukannya makin kuat, tapi justru perlu asupan kalsium yang tinggi, dan susu adalah salah satu penolongnya.

Bicara tentang susu berarti juga berbicara tentang jenisnya yang lebih dari satu. Orang kebanyakan mengenal dengan istilah susu cair, susu kental manis dan susu bubuk. Padahal jika dijabarkan lebih rinci lagi, ada 4 jenis susu yang harus kamu tau perbedaannya. Agar makin paham, simak penjelasan Hipwee berikut, ya!

1. Susu kental manis yang sebenarnya lebih cocok jadi topping daripada dikonsumsi tiap hari

Susu Kental Manis via www.hemat.id

Proses pembuatan susu murni menjadi susu kental manis dimulai dengan melakukan pemanasan dengan suhu 80 derajat celcius selama 3 jam. Proses ini akan menghilangkan sekitar 60 % kadar air. Untuk mengentalkan susu, dilakukan proses evaporasi secara bertahap. Dalam proses ini dilakukan penambahan vitamin D dan standardisasi nutrisi. Kemudian akan dipanaskan kembali dengan suhu yang lebih tinggi yaitu 115,5-118,5 C selama 15 menit untuk sterilisasi. Akan didapatkan susu evaporasi dengan struktur lebih pekat dibandingkan susu murni, dan mengandung kira-kira 25% padatan susu bukan lemak. Susu inilah yang kemudian menjadi susu kental manis dengan penambahan gula yang juga berfungsi sebagai bahan pengawet.

Sebagai catatan, susu kental manis memiliki kandungan kalori dan gula yang tinggi dibandingkan dengan zat gizinya. Kadar protein, vitamin A dan D juga lebih kecil dibandingkan jenis susu lainnya. Itulah mengapa susu jenis ini yang paling murah harganya di pasaran. Tentunya ini juga tidak baik untuk dikonsumsi sehari-hari terlebih pada anak-anak.

2. Di Indonesia susu bubuk jadi paling banyak dikonsumsi. Gimana ceritanya dari cair bisa jadi bubuk?

Advertisement

Susu bubuk via www.mybaby.co.id

Membayangkan bentuk asli susu yang cair kemudian berubah menjadi bubuk tentu ada satu pertanyaan yang terlintas tentang bagaimana proses pembuatannya? Susu bubuk ternyata merupakan bubuk yang dibuat dari susu kering yang solid. Dalam pembuatannya, susu akan dikeringkan dengan spray dryer atau roller dryer dengan suhu 200 derajat celcius.

Bayangkan, dengan suhu setinggi itu, sebagian dari nutrisi yang dikandung akan hilang. Untuk itu, dilakukan fortifikasi kembali, atau penambahan nutrisi ke dalam susu bubuk agar tetap memenuhi kandungan yang seharusnya. Meski begitu, bisa dibilang nilai gizi alami susu sudah tidak ada. Selain itu, susu bubuk biasanya mengandung lemak nabati yang ditambahkan, karena lemak hewaninya hilang saat proses pemanasan.

Masyarakat kita lebih menggemari susu bubuk dibandingkan susu cair. Beberapa dari mereka bahkan masih menambahkan gula sebagai pemanis. Berdasarkan data Canadean Survey pada tahun 2008, konsumsi susu bubuk Indonesia mencapai 82,1% dari total konsumsi susu. Sedangkan susu cair hanya 17,9 %. Berbeda dengan Belanda dimana hampir 100% masyarakatnya minum susu cair segar. Untuk Amerika Serikat, konsumsi susu cair segar berkisar di angka 99,7%. Sedangkan di Asia seperti Thailand, masyarakat yang meminum susu cair segar sekitar 88,2%.


3. Susu UHT yang paling mudah ditemukan di pasaran

Susu UHT balok atasnya datar via blogmedia.web.id

UHT merupakan singkatan dari Ultra High Temperature. Susu ini dibuat dengan cara dipanaskan pada suhu 135 – 140 derajat celcius selama paling tidak 2 – 4 detik saja. Karena proses pemanasannya yang tinggi membuat seluruh mikroorganisme dan bakteri (termasuk bakteri baik) mati, sehingga susu UHT sering juga disebut dengan susu steril. Seluruh proses pembuatan UHT dilakukan secara aseptik tanpa bahan pengawet, dan hanya mampu bertahan selama 6 – 12 bulan.

Susu UHT biasanya dikemas pada kotak dengan permukaan datar. Untuk penyimpanannya, susu jenis ini aman diletakkan di rak biasa maupun lemari pendingin. Namun, setelah dibuka, sebaiknya segera dihabiskan karena umur kadaluwarsa tidak berlaku lagi. Namun jika masih ada sisa, bisa disimpan di lemari pendingin dengan suhu minimal 4 derajat celcius, itu pun hanya sanggup bertahan 2-3 hari saja. Untuk itu disarankan mengkonsumsi susu UHT dengan kemasan sekali minum (200 – 250 ml) agar lebih praktis.

4. Belum banyak yang tahu, tapi susu pasteurisasi dinilai yang paling baik dikonsumsi

Sama-sama susu cair, namun susu pasteurisasi dipanaskan dengan suhu lebih rendah, yaitu 72 derajat celcius selama paling tidak 15 detik. Dari proses ini, bakteri patogen akan mati, sementara bakteri pembusuknya masih ada, namun, kandungan bakteri baik dan vitaminnya masih terjaga dan tidak mati selama proses pemanasan. Nggak heran kalau susu jenis ini hanya bisa bertahan selama 1 – 2 minggu saja, itupun wajib disimpan di lemari pendingin dan sebaiknya langsung dihabiskan setelah dibuka.

Susu pasteurisasi biasanya dikemas dengan balok karton di mana bagian atasnya berbentuk seperti atap rumah. Karena kandungannya yang masih terbilang paling lengkap di antara susu jenis lain, susu pasteurisasi dinilai lebih baik jika dikonsumsi oleh anak-anak, mulai dari usia 1 tahun ke atas sebagai susu tambahan.

Mau mengkonsumsi yang mana, semua tergantung keputusan masing-masing. Tapi dari sini kamu jadi tahu ‘kan bahwa proses pembuatan susu sangat berpengaruh terhadap gizi yang terkandung di dalamnya.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

sumber : hipwee.com


loading...

Tips Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>