Kiat Hadapi Suami Temperamen

Kiat Hadapi Suami Temperamen

Suami bertugas sebagai pelindung bagi istri, mengayomi keluarga, memberi kasih sayang, sekaligus penenang kala gundah. Tapi bagaimana jika yang terjadi justru sebaliknya? Suami berlaku kasar pada istri, bahkan sampai membunuhnya?
 
Dokter Lety adalah istri bernasib malang. Suaminya, Dokter Helmi, yang seharusnya menjadi pelindung, telah tega meluncurkan peluru dari senjata api ke tubuh Letty hingga tewas. Peristiwa penembakan itu terjadi di klinik Azzahra di kawasan Jakarta Timur beberapa waktu lalu, tempat Lety praktik sehari-hari.
 
Berdasarkan penelusuran Parenting, motif penembakan itu adalah Helmi tidak terima atas gugatan cerai dari Lety. Dulunya, Helmi pernah mengancam akan membunuh Lety jika tetap nekat minta cerai. Kini, ancaman itu telah ia buktikan. Alasan Lety meminta cerai karena tidak tahan dengan perlakuan kasar dari suaminya.
 
Nah, bagaimana menurut pandangan Anda? Riri Hapsari (32) mengaku miris ketika mendengar berita tersebut. “Miris banget, ya, itu sepertinya tipe suami yang temperamen,” ujar Riri menduga perangai Helmi.
 
Sifat temperamen tidak dapat dipungkiri memang ada pada beberapa orang. Termasuk laki-laki yang menjadi suami. Biasanya sifat temperamen itu belum terlihat di masa pacaran.

Baca juga: Kiat Hadapi Wanita Selingkuhan Suami 

Soal kasus Helmi, belum ada data yang menyatakan bahwa ia adalah seorang temperamen, tapi menurut keterangan, Helmi memang kerap melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Dan KDRT itu sendiri bisa dipicu dari sifat temperamen.
 
Ciri paling umum suami temperamen adalah, ia bereaksi secara berlebihan ketika sedang marah. Selain itu, mudah cemburu, sangat sensitif pada konflik, dan kerap mengharapkan situasi yang tidak realistis. Jika ciri-ciri tersebut Anda temukan pada diri suami dan dibuat bingung bagaimana menghadapinya, berikut ini beberapa kiat yang bisa Anda coba:


 

1. Jangan ‘menyiram minyak pada kobaran api’

Jika sedang berapi-api, usahakan Anda tetap dingin. Amarah hanya akan berlangsung sementara waktu. Hindari percekcokan dengan saling menghujani kata-kata negatif. Karena marah bisa berhenti. Tapi perkataan yang menyakitkan bisa meninggalkan bekas luka selamanya.
 

2. Tunggu reda

Pahami tubuh adalah sistem energi. Butuh waktu bagi energi dan hormon adrenalin untuk mengendap, setelah terpicu oleh kemarahan. Dan biasanya perlu 20 menit agar efek adrenalin itu mereda. Dekati dan ajak suami berkomunikasi kembali saat ia sudah tenang.

Baca juga : 5 Cara Agar Suami Mendengarkan Omongan Anda 

3. Jangan mentolerir sikap tidak hormat

Hal ini berlaku jika kemarahan suami sudah mengarah pada sikap merendahkan dan meremehkan Anda. Ingat saat mengucapkan ikrar pernikahan, ia berjanji untuk mencintai sepanjang sisa hidupnya. Ketika ia bersikap di luar batas, artinya ia sudah menyalahi janji yang ia ucapkan sendiri. Anda harus menghentikannya, terutama ketika menerima perlakuan yang tidak hormat lebih dari sekali.
 

4. Memberi maaf jika diminta

Artinya, suami pun perlu mengucapkan maaf jika ia berbuat salah. Kadang permintaan maaf yang tulus bisa menjadi obat mujarab bagi hati yang telah remuk redam. Setidaknya, ketika mengulurkan tangan dan mengatakan maaf, pasangan Anda menyadari apa kesalahan yang telah ia perbuat, dan betapa hal itu berdampak bagi perasaan istrinya. (Alika Rukhan)
 

sumber : parenting.co.id


loading...

Tips Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>