Kanker Tenggorokan: Mulai dari Gejala, Penyebab, Sampai Pengobatannya

Kanker Tenggorokan: Mulai dari Gejala, Penyebab, Sampai Pengobatannya

Meski terdengar asing dari jenis kanker lainnya, kanker tenggorokan merupakan kondisi yang umum terjadi. Di Indonesia sendiri angka kejadian kanker tenggorokan, khususnya kanker nasofaring diketahui menduduki posisi ke-4 sebagai kanker yang paling banyak diderita setelah kanker payudara, kanker serviks, dan kanker paru.

Bahkan berdasarkan data GLOBOCAN 2012 yang dikutip dari laman Kemenkes, sebanyak 87 ribu kasus kanker nasofaring muncul setiap tahunnya. Dalam banyak kasus, pria yang merokok lebih berisiko tinggi terkena kanker jenis ini dibandingkan mereka yang tidak merokok. 

Apa itu kanker tenggorokan?

Kanker tenggorokan merupakan tumor ganas yang tumbuh pada kotak suara, pita suara, dan bagian tenggorokan lainnya seperti amandel dan orofaring. Sama seperti jenis kanker pada umumnya, tumor ganas yang tumbuh di tenggorokan ini berasal dari sel-sel abnormal yang tidak terkendali.

Meskipun kebanyakan kanker jenis ini melibatkan jenis sel yang sama, tapi istilah yang lebih khusus digunakan untuk membedakan bagian tenggorokan yang terserang kanker. Berikut ini beberapa jenis kanker tenggorokan sesuai dengan bagian tenggorokan yang diserang.

  • Kanker nasofaring menyerang bagian atas tenggorokan.
  • Kanker orofaring menyerang bagian tengah tenggorokan. Seringnya tumbuh pada bagian amandel.
  • Kanker hipofaring menyerang bagian bawah tenggorokan di belakang kotak suara.
  • Kanker glotis menyerang pita suara.
  • Kanker supraglotik menyerang jaringan di atas pita suara.
  • Kanker subglotik menyerang bagian bawah pita suara dan di atas batas tenggorokan.

Mengenal gejala kanker tenggorokan

Gejala kanker jenis ini pada setiap orang berbeda-beda. Namun, umumnya seseorang yang mengalami kanker tenggorokan mengalami tanda atau ciri-ciri berikut.

  • Susah menelan
  • Sering mengalami mengi (napas berbunyi seperti siulan lirih atau ngik-ngik)
  • Sakit pada telinga seperti berdenging yang tidak hilang
  • Batuk kronis yang tidak kunjung sembuh (bahkan mungkin sampai mengeluarkan darah)
  • Suara serak
  • Muncul benjolan di leher
  • Penurunan berat badan tanpa sebab

Berbagai gejala yang sudah disebutkan di atas memang cenderung mirip dengan masalah kesehatan lainnya. Hal ini seringkali membuat kanker jenis ini sulit terdeteksi. Itu sebabnya, segera konsultasi ke dokter Anda jika mengalami gejala-gejala di atas, terutama yang tidak kunjung membaik atau justru semakin bertambah parah.

Faktor risiko kanker tenggorokan

Berikut adalah beberapa faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko seseorang untuk terkena kanker tenggorokan.

  • Penggunaan tembakau dalam jangka waktu lama, baik dalam bentuk rokok maupun dikunyah, merupakan faktor risiko utama dari kanker jenis ini.
  • Konsumsi minuman keras secara berlebihan.
  • Tidak menjaga kesehatan gigi dan mulut dengan baik.
  • Kurang makan buah dan sayur.
  • Terinfeksi HPV (Human papillomavirus). HPV bisa ditularkan melalui kontak seksual seperti seks oral.
  • Terinfeksi EBV (Epstein barr virus).
  • Penyakit asam lambung atau GERD.

Beberapa faktor risiko lainnya meliputi:

  • Jenis kelamin. Pria lima kali lebih mungkin terkena kanker tenggorokan dibandingkan wanita.
  • Usia. Orang yang berusia 65 tahun ke atas memiliki risiko lebih tinggi.
  • Paparan bahan kimia jangka panjang seperti asbes, nikel, dan asap asam sulfat.

Kanker tenggorokan juga sering dikaitkan dengan jenis kanker lainnya. Dalam beberapa kasus, ada orang yang didiagnosis menderita kanker tenggorokan dan didiagnosis pula menderita kanker esofagus, paru-paru, atau kandung kemih pada saat bersamaan.

Hal ini biasanya karena kanker sering memiliki faktor risiko yang sama, atau karena kanker yang dimulai di satu bagian tubuh dapat menyebar (metastasis) ke bagian tubuh lainnya seiring berjalannya waktu.

sakit-tenggorokan

Berbagai cara mendiagnosis kanker tenggorokan

Pada tahap awal diagnosis, dokter akan menanyakan tentang riwayat kesehatan, kebiasaan merokok dan minum, serta aktivitas seksual Anda. Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik menggunakan alat khusus untuk melihat lebih dekat tenggorokan Anda. Jika Anda diduga mengidap kanker tenggorokan, dokter akan melakukan pemeriksaan secara lebih mendetail untuk memastikan diagnosis. Jenis pemeriksaan tersebut meliputi:

  • Endoskopi atau laringoskopi.
  • X-ray, CT, MRI, dan PET scan. Pemeriksaan ini digunakan untuk menentukan tingkat penyebaran kanker.
  • Biopsi atau pengambilan sampel jaringan di sekitar tenggorokan.

Tahapan perkembangan kanker tenggorokan

Jika dokter menemukan sel kanker yang abnormal pada tenggorokan Anda saat pemeriksaan awal, dokter nantinya akan segera melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui seberapa jauh penyebaran kanker. Ini dilakukan agar membantu dokter untuk menentukan langkah pengobatan yang akan dijalani oleh penderita.

Penyebaran kanker tenggorokan terbagi dalam lima tingkatan atau stadium, yaitu:

  • Stadium 0: tumor hanya berada pada jaringan di tenggorokan.
  • Stadium 1: tumor berukuran kecil lebih kecil dari 7 cm dan hanya menyerang bagian tenggorokan.
  • Stadium 2: tumor berukuran lebih besar, tapi belum menyebar ke luar tenggorokan.
  • Stadium 3: tumor sudah menyebar ke jaringan atau organ lain di dekat tenggorokan.
  • Stadium 4: tumor sudah menyebar hingga ke jaringan getah bening atau organ di luar tenggorokan lainnya.

Yang bisa dilakukan untuk mencegah kanker tenggorokan

Sampai saat ini tidak ada cara ampuh yang terbukti bisa mencegah kanker jenis ini. Meski begitu, Anda tetap bisa mengurangi risiko kanker tenggorokan dengan cara:

  • Jika Anda merokok, berhentilah merokok sekarang juga. 
  • Batasi konsumsi alkohol, lebih baik lagi berhenti sama sekali mengonsumsi alkohol.
  • Konsumsi makanan sehat yang mengandung gizi seimbang dari buah dan sayur. 
  • Lindungi diri Anda dari bahaya HPV. Anda dapat mengurangi risiko terkena HPV dengan tidak berganti-ganti pasangan saat seks dan menggunakan kondom setiap kali berhubungan seks. Pertimbangkan pula untuk mendapatkan vaksin HPV.

Baca Juga:

sumber : hellosehat.com


loading...

Tips Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>