Jangan Bingung, Begini Cara Menyusui Bayi yang Baik dan Benar

Jangan Bingung, Begini Cara Menyusui Bayi yang Baik dan Benar

Sesudah buah hati yang telah dinanti-nanti lahir, saatnya Anda memasuki tahap menyusui. Akan tetapi, bagi beberapa ibu tahap ini bisa terasa menakutkan. Anda mungkin takut salah, cemas bayi tidak bisa menyusui dengan lancar, atau jika air susu ibu (ASI) tidak keluar. Belum lagi kalau orang-orang di sekitar Anda terlalu banyak memberikan saran dan masukan soal bagaimana cara menyusui bayi yang paling tepat. Anda malah kelimpungan menyaring semua informasi tersebut.

Pada kenyataannya, memberikan ASI itu sederhana, kok. Begitu lahir, bayi sudah punya kemampuan untuk mengisap susu dan makan secara mandiri. Supaya Anda tidak terlalu mengkhawatirkan soal cara menyusui bayi yang benar, perhatikan baik-baik panduan berikut ini.

Bagaimana cara menyusui bayi yang benar?

Pemberian ASI dapat dimulai langsung setelah proses melahirkan selesai. Pertama kalinya bayi menyusui pada ibu disebut dengan inisiasi menyusui dini, disingkat IMD.  Berikut ini langkah-langkahnya agar dapat menyusui dengan baik dan benar:

  1. Bagi ibu menyusui, posisikan diri senyaman mungkin dan rilekskan diri Anda. Cara agar ibu merasa nyaman misalnya dengan bersandar atau ganjal badan ibu dengan bantal.
  2. Setelah posisi ibu nyaman, gendong dan pegang kepala bayi dengan satu tangan dan pertahankan posisi payudara ibu dengan tangan ibu yang lain. Lalu dekatkan muka bayi ke payudara ibu. Pastikan tubuh bayi menempel betul dengan tubuh ibu.
  3. Beri rangsangan pada daerah bibir bawah bayi dengan menggunakan puting susu ibu. Tujuannya agar mulut bayi terbuka lebar. Biarkan bayi memasukkan areola (seluruh bagian gelap di sekitar puting payudara ibu) ke dalam mulut bayi.
  4. Bayi akan mulai menggunakan lidahnya untuk mengisap ASI. Ibu tinggal mengikuti irama menyedot dan menelan yang keluar.
  5. Ketika ibu ingin menyudahi atau berpindah ke payudara yang lain, letakkan satu jari ibu ke sudut bibir bayi, nanti di sini anak akan melepaskan isapannya. Jangan tiba-tiba melepas mulut bayi atau menggeser payudara. Hal ini akan membuat bayi rewel dan akan sulit menyusui lagi nantinya.
  6. Biarkan bayi mengatur sendiri seberapa cepat ia akan makan. Perlu diingat, tidak ada batasan waktu pasti saat menyusui.
  7. Kapan harus mulai berpindah payudara? Ibu dapat merasakan payudara akan menjadi lunak setelah bayi menyusu di satu payudara. Tindakan menyusui secara bergantian dapat mencegah payudara yang belum dipakai menjadi nyeri.
  8. Bagaimana bisa mengetahui bahwa bayi masih ingin menyusu? Lakukan langkah yang sama seperti langkah-langkah sebelumnya. Ketika bayi masih ingin menyusu bayi akan memasukkan areola ke dalam mulutnya dan kembali mengisap. Sedangkan kalau sudah kenyang, bayi akan berhenti dengan sendirinya.
  9. Setelah bayi Anda kenyang, tepuklah pelan-pelan di sekitar punggung bayi, biarkan bayi mengeluarkan sendawa.

sistem imun bayi

Hal-hal penting lain yang harus dicatat

Selain memastikan cara menyusui bayi yang Anda lakukan sudah tepat dan sesuai pedoman, ada beberapa hal yang masih perlu diperhatikan agar proses menyusui tetap lancar dan terasa begitu bermakna. Simak poin-poin di bawah ini, yuk.

  1. Tunda pemakaian dot untuk memberikan ASI bagi bayi. American Academy of Pediatrics di Amerika Serikat menyarankan pemakaian dot lebih baik dilakukan setelah bayi mampu menyusu pada ibu dengan baik dan benar. Kecuali dalam beberapa kasus khusus seperti ASI tidak keluar. Jadi, tunggulah sampai kurang lebih usia bayi empat minggu.
  2. Lakukan perawatan pada puting ibu dan hindari pemakaian sabun yang mengandung terlalu banyak bahan kimia di daerah areola. Hal ini karena sabun bisa membuat kulit kering dan pecah-pecah.
  3. Asupan gizi ibu sangat penting untuk menjaga kandungan nutrisi ASI. Apa saja yang perlu diperhatikan? Pertama adalah makan makanan bergizi dan minum air yang banyak. Jangan lupa, ibu menyusui juga perlu istirahat yang cukup.
  4. Jangan mengonsumsi obat-obatan yang tidak perlu atau memang tidak diresepkan oleh dokter.

Baca Juga:

sumber : hellosehat.com


loading...

Tips Lainnya