Gejala dan Pemeriksaan Hipotiroid Kongenital yang Perlu Dicatat Setiap Ortu

Gejala dan Pemeriksaan Hipotiroid Kongenital yang Perlu Dicatat Setiap Ortu

Kelenjar tiroid merupakan kelenjar yang terletak di leher bagian bawah. Kelenjar ini berfungsi membuat hormon yang mengandung iodin. Hormon tersebut berfungsi untuk mengatur pertumbuhan, perkembangan otak, dan metabolisme tubuh.

Terganggunya produksi hormon ini dapat menghambat pertumbuhan anak, mengganggu sistem pernapasan, sistem jantung dan saraf, suhu tubuh, kekuatan otot, kesehatan kulit, berat badan, tingkat kolesterol, dan gangguan perkembangan otak seperti keterbelakangan mental. Sayangnya, gangguan ini bisa menjadi bawaan lahir. Kondisi ini dikenal dengan istilah hipotiroid kongenital.

Apa saja tanda dan gejala hipotiroid kongenital?

Gejala-gejala dari hipotiroid kongenital yang sering muncul pada bayi adalah jaundice (kulit dan mata kekuningan) berkepanjangan, waktu tidur yang lama serta aktivitas yang menurun, sulit makan, kulit kering, dan sembelit (susah buang air besar). Bayi juga mungkin tampak lesu dan mudah tersedak.

Tanda yang muncul pada anak hipotiroid kongenital adalah hernia umbilikalis, makroglossia, perut membuncit, serta kulit yang dingin dan berbintik. Anda juga bisa mengamati wajah anak dan melihat ada yang janggal. Misalnya jarak antara mata kanan dan kiri terlalu lebar atau area di antara kedua alis anak (di atas hidung) tampak sangat besar.

Sedangkan gejala-gejala lainnya yang akan muncul seiring pertumbuhan anak antara lain:

  • Pertumbuhan yang terhambat (tubuh anak sangat pendek)
  • Kepala yang lebih besar dari ukuran normal
  • Lemas, seperti tidak bertenaga
  • Otot lemah
  • Refleks lambat
  • Terlambat belajar duduk serta berdiri
  • Suara terdengar kasar dan terlambat berbicara
  • Perkembangan organ seksual terhambat atau tidak terjadi sama sekali
  • Mulut sering terbuka karena ukuran lidah besar
  • Pembengkakan pada kelopak mata, bagian belakang tangan, atau area genital
  • Nadi terasa lambat, denyut jantung lemah

kafein untuk bayi prematur

Bagaimana dokter mendiagnosis hipotiroid kongenital?

Kongenital hipotiroid merupakan salah satu penyebab utama keterbelakangan mental pada anak-anak yang dapat dicegah dan memiliki prognosis yang baik. Pada tahun 1993, American Academy of Pediatrics merekomendasikan pemeriksaan hipotiroid kongenital pada seluruh bayi baru lahir. Deteksi dini untuk kongenital hipotiroid merupakan salah satu dari banyak pemeriksaan skrining yang dilakukan pada bayi baru lahir.

Yang digunakan untuk skrining adalah darah dari tumit yang dikumpulkan pada kertas filter khusus. Darah akan rutin diambil antara hari ke-2 hingga hari ke-5, bisa juga menggunakan darah dari tali pusat. Dalam beberapa program juga dilakukan pengambilan sampel ke-2 saat pasien berusia antara 2 hingga 6 minggu.

Pada awalnya skrining dilakukan dengan menguji kadar 

T4. Bila hasil yang didapatkan berada di bawah kadar normal, maka selanjutnya dilakukan uji Thyroid-Stimulating Hormone atau TSH. Dengan meningkatnya keakuratan uji TSH, dilakukan juga uji TSH ini untuk mendeteksi hipotiroid kongenital.

Setelah didapatkan hasil skrining yang tidak wajar, dilakukan kembali uji konfirmasi.  Uji konfirmasi akan memeriksa TSH, fT4, atau total T4 dikombinasi dengan T3 resin uptake.

Menurut rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada tahun 2012,  skrining hipotiroid kongenital dilakukan pada semua bayi yang baru lahir dengan:

  • Mengambil sampel darah kapiler dari permukaan lateral kaki bayi atau bagian medial tumit, pada hari ke-2 sampai ke-4 setelah lahir.
  • Darah kapiler diteteskan ke kertas saring khusus.
  • Kertas saring tersebut dikirim ke laboratorium yang memiliki fasilitas pemeriksaan TSH.

Bayi dengan hasil uji skrining positif segera dipanggil kembali untuk pemeriksaan TSH dan T4 serum. Bila hasil TSH tinggi dan FT4 rendah atau hasil FT4 rendah dan berapapun TSH, dokter akan segera memberikan tiroksin.

Baca Juga: Si Kecil Lemas Terus dan Mudah Kedinginan? Waspada Hipotiroid Pada Anak!

sumber : hellosehat.com


loading...

Tips Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>