Benarkah Ibu Muda Berisiko Tinggi Kena Penyakit Jantung?

Benarkah Ibu Muda Berisiko Tinggi Kena Penyakit Jantung?

Menjalani kehamilan di usia berapapun sama-sama menyebabkan stres pada tubuh. Mulai dari berat badan naik drastis, rambut rontok, nyeri punggung, dan segelintir keluhan lainnya cukup sering dirasakan oleh ibu hamil. Namun, bila Anda masih tergolong remaja dan kini sedang hamil, Anda mungkin akan menghadapi tantangan yang lebih besar. Penelitian baru-baru ini menemukan bahwa ibu muda lebih berisiko terkena penyakit jantung. Bagaimana bisa? Baca terus ulasan berikut ini.

Menjadi seorang ibu saat remaja berisiko lebih besar terkena penyakit jantung

Menurut Catherine Pirkle, Ph.D, seorang asisten profesor dari University of Hawaii di Manoa, Honolulu, membiarkan remaja menjalani proses kehamilan hingga melahirkan sebaiknya dihindari sedini mungkin. Hal ini didasari oleh penelitian yang dilakukan menggunakan data 1.047 wanita yang berusia 65 sampai 74 tahun yang diambil dari International Mobility in Aging Study (IMIAS) pada tahun 2012.

Setelah memperoleh informasi tentang usia kehamilan pertama pada tiap wanita tersebut, para peneliti menggunakan metode Framingham Risk Score (FRS) yang terdiri dari tes darah dan tes tekanan darah. Metode ini digunakan untuk memperkirakan risiko penyakit jantung dalam 10 tahun ke depan.

Hasil menunjukkan bahwa wanita yang menjalani kehamilan pertama sebelum usia 20 tahun ternyata mencetak skor yang lebih tinggi pada FRS. Artinya, mereka memiliki risiko lebih besar terkena penyakit jantung daripada wanita yang menjadi ibu di usia yang lebih tua (di atas 20 tahun).

Para periset menganggap hasil penelitian ini tergolong kuat dan akurat. Pasalnya, partisipan dalam penelitian berasal dari lima lokasi yang sangat berbeda sehingga tingkat validitasnya dianggap tinggi. Oleh karena itu, hal ini semakin menguatkan bahwa wanita yang sudah menjadi ibu sebelum usianya 20 tahun lebih berisiko terkena penyakit jantung di masa mendatang.

sakit dada ciri penyakit jantung

Risiko penyakit jantung juga dipengaruhi oleh tekanan sosial

Menurut data dari Centers for Disease Control (CDC) di Amerika Serikat pada tahun 2015, sebanyak 229.715 bayi lahir dari wanita yang berusia 15 sampai 19 tahun. Meskipun terus menurun dalam beberapa tahun terakhir, angka ini masih tampak tinggi dan perlu diupayakan pencegahannya.

Pasalnya, kehamilan saat remaja cenderung menimbulkan dampak sosial yang tidak baik. Seorang remaja yang sudah menjadi ibu kebanyakan harus mengalami putus sekolah untuk mengurus buah hatinya, karena dikeluarkan oleh pihak sekolah, atau karena malu terhadap komentar orang lain. Selain itu, kesempatan untuk bekerja pun menjadi lebih rendah. Belum lagi faktor pernikahan usia remaja (jika sudah menikah) yang semakin menambah beban psikologis ibu muda. 

Wanita yang melahirkan pertama kali sebelum usia 20 tahun cenderung melakukan pola hidup yang tidak sehat seperti merokok, pola makan yang tidak sehat, dan kurang olahraga. Inilah sebabnya mereka lebih berisiko mengalami kelebihan berat badan, hipertensi, dan diabetes ketimbang wanita yang melahirkan di atas usia 20 tahun. Akibatnya, risiko terkena penyakit jantung semakin besar.

Bukan hanya pada pihak ibunya saja, janin pun ikut terkena dampaknya. Seorang remaja yang menjalani kehamilan berisiko melahirkan bayi secara prematur, berat lahir rendah, dan mengalami masalah perkembangan bayi lainnya.

Lantas, apa yang bisa dilakukan?

Berdasarkan penelitian tersebut, Catherine Pirkle menganjurkan agar para remaja tidak menjalani kehamilan di usia muda. Ini sebabnya diperlukan pendidikan seks dan keluarga berencana untuk membekali para remaja dari segi mental dan sosialnya.

Terlepas dari berbagai penyebab kehamilan pada remaja, mereka perlu dibekali pengetahuan tentang berbagai  risiko yang mungkin terjadi. Misalnya kemungkinan terkena obesitas, hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, dan merokok. Dengan menjauhi berbagai faktor risiko tersebut maka diharapkan dapat menghindarkan para remaja dari risiko penyakit jantung di masa depan.

Wanita yang hamil sangat dianjurkan untuk berhenti merokok, mengendalikan berat badan dengan olahraga, dan mengatur pola makan yang sehat untuk menjaga kehamilan. Selain itu, penting juga bagi para ibu hamil – khususnya yang berusia remaja – untuk rutin cek kehamilan. Hal ini berguna untuk mengantisipasi risiko terkena penyakit jantung atau masalah kesehatan lainnya pada ibu hamil maupun janin.

Baca Juga:

sumber : hellosehat.com


loading...

Tips Lainnya