Aphantasia: Saat Pikiran Jadi “Buta”, Tak Bisa Membayangkan Apa Pun

Aphantasia: Saat Pikiran Jadi “Buta”, Tak Bisa Membayangkan Apa Pun

Pernahkah Anda membayangkan sesuatu di pikiran Anda, misalnya berjalan-jalan di tengah padang bunga sambil menikmati sejuknya embusan angin sepoi-sepoi atau memenangkan undian senilai puluhan juta? Berimajinasi membayangkan hal membahagiakan yang menjadi impian Anda yang belum tercapai mungkin menjadi salah satu kegiatan favorit Anda. Namun, tahukah Anda bahwa tidak semua orang diberikan kemampuan tersebut? Ya, kondisi ini disebut aphantasia.

Apa itu aphantasia?

Aphantasia ialah kondisi di mana seseorang tidak mampu menciptakan gambar atau bayangan secara visual dalam pikirannya. Orang dengan aphantasia sering kali diistilahkan dengan orang yang tidak memiliki “mata pikiran”. Mata pikiran yang ada di dalam otak seperti layar yang mempertunjukkan sebuah rangkaian kegiatan yang kita bayangkan dan penuh warna.

Orang yang mengalami aphantasia tidak mampu memproyeksikan gambar di layar tersebut. Kondisi ini bukanlah sebuah kecacatan fisik atau tanda penyakit tertentu, melainkan sebuah kelainan neurologis (saraf) yang memengaruhi otak tanpa risiko kesehatan yang serius.

Aphantasia pertama kali ditemukan oleh Sir Francis Galton, seorang penjelajah dan antropolog dunia. Galton selalu terpesona oleh kecerdasan manusia dan memiliki ketertarikan untuk melakukan eksperimen inovatif dengan menganalisis rumitnya sistem otak ketika seseorang membayangkan atau mengimajinasikan sesuatu dalam pikiran mereka.

Galton kemudian melakukan survei untuk mengetahui berapa banyak orang yang memiliki kemampuan untuk berimajinasi secara visual. Anehnya, hasil menunjukkan bahwa 2,5 persen penduduk Inggris memiliki kondisi yang kemudian disebut aphantasia. Dengan kata lain, 1 dari 40 orang tidak bisa membayangkan situasi atau hal-hal fiktif dalam pikirannya.

Selanjutnya dilakukan penelitian yang lebih terfokus di tahun 2005 oleh ahli neurologi kognitif Adam Zeman di University of Exeter. Zeman melakukan penelitian berdasarkan laporan seorang pasien yang menyatakan bahwa ia kehilangan kemampuan untuk menggambarkan sesuatu atau berimajinasi dalam pikirannya.

Pasien yang berinisial MX ini kehilangan imajinasinya setelah operasi jantung. Setelah para peneliti mempublikasikan hasil penelitian terhadap MX dalam jurnal Neuropsychologia, sejumlah 21 orang menghubungi tim peneliti dan mengaku memiliki kondisi yang sama dengan MX.

Orang-orang ini berpartisipasi dalam sebuah percobaan, lengkap dengan kelompok kontrolnya. Percobaan ini dilakukan dengan melihat aktivitas otak mereka menggunakan mesin fMRI untuk menentukan bagian otak yang bertanggung jawab dalam membayangkan skenario tertentu lengkap dengan gambar visual yang berwarna pada otak mereka yang diberikan sinar X.

Apa yang menyebabkan seseorang mengalami aphantasia?

Berdasarkan hasil pemeriksaan, MX bersama dengan pasien lainnya, menunjukkan penurunan aktivitas pada bagian otak lobus parietal dan frontal, yang berkaitan dengan pemikiran abstrak manusia. Bagian ini sangat berperan dalam aktivitas melamun atau berimajinasi. Bagian utama lobus bertugas untuk menyimpan kenangan dan mengintegrasikan indra visual dan penciuman utama.

Di bagian-bagian otak itulah proses visual seseorang terjadi. Sehingga orang bisa membayangkan bentuk, rasa, rupa, bau, sebagai bagian dari efek visualisasi tersebut. Selanjutnya, lobus oksipital dan temporal memproses informasi ini dan memproyeksikannya secara visual di layar pikiran manusia.

Orang dengan aphantasia diduga memiliki masalah di bagian-bagian tertentu di bagian otak tersebut sehingga tidak ia tidak mampu berimajinasi dan membayangkan sesuatu secara visual.

Orang dengan aphantasia ternyata masih bisa bermimpi

Namun, penelitian membuktikan bahwa orang yang mengalami aphantasia masih bisa bermimpi dengan visualisasi yang sangat jelas. Zeman mengatakan, hal ini mungkin terjadi karena bagian otak yang mengalami gangguan ini memiliki kemampuan untuk menampilkan serangkaian kegiatan visual hanya ketika seseorang kehilangan kesadarannya, yakni ketika tidur. Sebaliknya, ketika sadar, otak yang berperan dalam aktivitas ini tidak mampu mewujudkan visualisasi tersebut.

Kebanyakan, orang yang mengalami kondisi ini berusia sangat muda, bahkan bagi sebagian orang gangguan ini telah mereka bawa sejak lahir atau yang dikenal sebagai aphantasia bawaan. Untungnya , ketidakmampuan ini tidak menjadi hambatan berarti bagi kelangsungan hidup mereka. Walaupun dalam beberapa waktu, beberapa orang merasa tertekan ketika mereka tidak mampu mengingat dan menggambarkan wajah orang yang mereka cintai, terutama setelah orang tersebut meninggal dunia.

Penelitian tentang aphantasia masih terbilang jarang sehingga belum ditemukan obatnya. Para peneliti masih mencari tahu penyebab dasar dari kondisi ini, apakah genetik atau justru psikologis.

Baca Juga:

sumber : hellosehat.com


loading...

Tips Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>