Anak-anak Bertengkar, Orangtua Harus Bagaimana?

bijaksana

Anak-anak berkelahi dengan saudara kandungnya umum terjadi, entah itu saat balita atau sesudah dewasa. Saat itulah orangtua kerap dibuat bingung, apakah membiarkan anak-anak menyelesaikannya atau ikut campur.

Sebenarnya, sejumlah penelitian menemukan manfaat saudara kandung bertengkar. Salah satunya bentrokan dapat membantu meningkatkan pertumbuhan sosial dan psikologis, memberikan kesempatan anak-anak melatih kemampuan resolusi konflik mereka.

Tapi, tidak semua konflik bersifat membangun. Dalam beberapa kasus, berkelahi bisa merusak dan merugikan.

Sebuah studi dalam Jurnal Pediatrics 2013 melihat pertengkaran saudara dengan saudara, seperti memukul atau mengambil barang-barang yang dimiliki saudara lainnya. Para peneliti menemukan orangtua seringkali mengabaikannya dan melihat jenis perlawanan ini normal atau tidak berbahaya. Padahal, pertengkaran semacam itu bisa berdampak negatif terhadap kesehatan mental anak dan menyebabkan kesulitan di kemudian hari.

Seperti dikutip YahooParenting, Senin (20/7/2015), memang bagian tersulit bagi orangtua adalah mengetahui apakah mereka harus mengambil sikap atau tidak saat anak-anaknya bertengkar.

Peneliti Kanada melakukan penelitian terbaru tentang konflik saudara kandung dan menemukan ketika orangtua ikut campur, akan merampas kesempatan anak-anak mengembangkan strategi resolusi konflik dan bahkan dapat membuat situasi lebih buruk.

Di sisi lain, ketika orangtua terlibat, terkadang membimbing anak-anak mereka menemukan solusi yang konstruktif.

Orangtua Harus Bagaimana?

Apabila orangtua menemukan anak-anaknya bertengkar, peneliti Kanada melihat berkomproni tampaknya menjadi cara terbaik mengatasi konflik dan kemudian membiarkan anak-anak menemukan resolusi sendiri.

Kebanyakan ahli setuju jika anak-anak meributkan hal seperti siapa yang akan bermain dengan mainan baru atau yang memegang remote TV maka orangtua sebaiknya membiarkan anak menyelesaikan masalah mereka sendiri.

“Sebisa mungkin, orangtua harus membiarkan antarsaudara menyelesaikan masalah mereka sendiri,” tulis Suzanne Barat dari Cornell University.

“Mencoba memecahkan setiap persaingan antarsaudara dapat meningkatkan, tidak mengurangi masalah, karena kebanyakan dari pertengkaran mungkin dimaksudkan untuk mendapatkan perhatian Anda. Setelah anak-anak Anda sadar bahwa Anda tidak akan terlibat, mereka mungkin menyerah menarik perhatian dengan bertengkar atau menyelesaikan argumen dengan sendirinya. ”

Sama halnya yang disampaikan Claire Hughes, penulis Social Understanding and Social Lives. Menurutnya, berdebat di antara saudara membangun karakter.

“Semakin sering anak-anak marah dengan yang lain, semakin mereka belajar tentang mengatur emosi mereka dan bagaimana mereka dapat mempengaruhi emosi orang lain,” kata Claire Hughes.

“Saya tidak ingin menjadi wanita yang mengatakan ada baiknya jika anak-anak Anda saling membenci, tetapi orangtua mungkin mendapar semacam kenyamanan, ketika anak-anak mereka berjuang, dalam belajar keterampilan sosial yang berharga dan kecerdasan yang mereka akan peroleh di luar rumah, dan berlaku untuk anak-anak lain.”

Namun, yang perlu disadari tidak semua anak-anak mampu menemukan solusi tanpa orangtua terlibat. “Saya telah melihat banyak situasi di mana anak-anak tidak berhasil, ” kata Laura Markham, PhD, penulis Peaceful Parent, Happy Kids, di situs Aha! Parenting.

“Sebaliknya, satu anak dibully oleh yang lain dan lain diizinkan melakukannya. Saya tidak akan membiarkan perilaku semacam, jelas, dan akan melakukan intervensi secara aktif yang diperlukan untuk mencegahnya. Setiap anak memiliki hak untuk menjadi aman di rumahnya sendiri. ”

Orangtua dibanding bertindak sebagai wasit, anak-anak bisa diajarkan menyelesaikan konflik mereka sendiri dengan bimbingan. “Ketika saudara datang dengan solusi mereka sendiri, mereka mungkin lebih cenderung untuk menggunakan lagi solusi mereka di masa depan,” Mark Feinberg, PhD, di Penn State, mengatakan ScienceDaily.

Orangtua yang ikut campur setiap kali anak-anaknya bertengkar dapat mencegah mereka belajar menemukan solusi dari konflik bersama-sama. Sebaliknya, cobalah mengajar anak-anak bagaimana untuk tenang, kompromi, negosiasi, dan menyelesaikan masalah mereka sendiri. Orangtua harus bersikap ketika argumen saudara meningkat ke pelecehan verbal atau kekerasan fisik.

sumber : liputan6.com


loading...

Tips Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>