4 Kiat Cerdas Menghindari Kekerasan Dalam Pacaran

4 Kiat Cerdas Menghindari Kekerasan Dalam Pacaran

Tindak kekerasan di antara pasangan sejoli tidak hanya terjadi dalam rumah tangga. Meski pahit untuk didengar, aksi kekerasan dalam pacaran bukan lagi sebuah fenomena baru di negeri ini. Kebanyakan berakar dari rasa cemburu buta dan posesif yang tak berdasar, kemudian melayanglah tamparan dan hujan kata-kata makian. Tidak menutup kemungkinan juga kekerasan dalam pacaran bisa berakhir ke tindak perkosaan.

Meski hubungan pacaran tidak terikat oleh hukum resmi, bukan berarti kita bisa mentolerir tindak kekerasan di dalamnya. Berikut yang bisa Anda lakukan untuk mencegah kekerasan dalam pacaran.

Kunci mencegah kekerasan dalam pacaran ada dalam diri Anda sendiri

1. Ketahui dan sadari kekerasan bisa terjadi selama pacaran

Faktanya, banyak orang yang mengalami tindak kekerasan dalam pacaran, namun tidak semuanya menyadari bahwa ia sebenarnya adalah korban. Ada sejumlah hal yang mendasari hal ini. Kebanyakan orang memilih untuk nrimo saja perlakuan kasar pacarnya karena takut kehilangan, atau merasa yakin bisa mengubah “kebiasaan buruk dan temperamen” si dia menjadi lebih baik lagi.

Banyak juga yang tidak menyadari dirinya menjadi korban hubungan abusive karena pada dasarnya tidak mengetahui bahwa tindak kekerasan bisa terjadi pada saat pacaran. Ada banyak bentuk tindak kekerasan yang mungkin terjadi, mulai dari kekerasan fisik, verbal, emosional, hingga seksual. Kekerasan bisa terjadi pada siapapun, di manapun. Bahkan, kebanyakan kasus kekerasan domestik dilakukan oleh orang-orang terdekat korban.

  • Kekerasan fisik, contohnya menendang, mendorong, menampar, menonjok, menarik paksa, menjambak, memukul, hingga mengancam menggunakan senjata tajam.
  • Kekerasan emosional, contohnya merendahkan harga diri, menggunakan panggilan yang memalukan, merendahkan diri, membentak, mengejek, memanipulasi, mempermalukan Anda di depan umum, mencoreng nama baik, komentar merendahkan, membuat berbagai peraturan yang mengekang dan tak masuk akal, membatasi hubungan Anda dengan orang-orang lain, hingga menunjukkan sikap-sikap posesif.
  • Kekerasan seksual, contohnya memaksa/mengancam berhubungan seks, melakukan pelecehan seksual, memeras untuk mendapatkan foto-foto sensual, menyebarkan foto-foto sensual, dan banyak lainnya.

trauma dan gangguan mental akibat kekerasan seksual

2. Kenali tanda-tanda awal dari kekerasan dalam pacaran

Tak hanya harus tahu bentuk dari kekerasan, Anda juga wajib mengenali berbagai tanda awal dari kekerasan dalam pacaran. Dengan begitu Anda akan lebih waspada. Berikut adalah tanda-tandanya:

  • Pasangan terlihat sangat agresif
  • Pasangan tidak bisa mengontrol emosinya, bahkan ketika menghabiskan waktu bersama Anda
  • Pasangan menunjukkan perubahan mood yang cepat, misalnya sebelumnya ia marah pada Anda kemudian berubah seketika menjadi baik dan super romantis.
  • Cenderung memaksa dan memanipulasi Anda untuk melakukan semua yang ia inginkan.

3. Cari teman bicara yang bisa dipercaya

Jika ada masalah atau hal yang mengganjal, jangan sungkan cari teman bicara. Bila Anda dan pasangan sedang dalam masalah atau bertengkar akibat sesuatu hal, jangan sungkan untuk menceritakannya pada orang yang Anda percaya.

Mendengarkan pendapat dari orang luar akan memberikan pandangan baru terhadap solusi yang Anda cari. Curhat juga membiarkan anda berbagi emosi dan tak memedamnya sendiri. Selain itu, akan ada orang lain yang mengetahui kondisi percintaan Anda saat itu. Maka jika suatu saat terjadi sesuatu hal yang tak diinginkan, orang tersebut bisa Anda andalkan sebagai pertolongan pertama.

4. Kalau perlu, ajak pasangan ke psikolog

Pada beberapa kasus, kecenderungan kekerasan yang dimiliki bisa diatasi lewat konsultasi konselor profesional. Pasalnya, kecenderungan abisuve si pacar bisa saja berasal dari trauma masa kecil dulu. Jika Anda ingin tetap serius menjalin hubungan asmara dengannya, Anda bisa meminta pasangan untuk pergi ke psikolog untuk memperbaiki perilaku kasarnya.

Tentu hal ini tidak selalu mudah dilakukan. Anda harus tetap berhati-hati ketika mengajak sang pacar. Mungkin, Anda juga bisa meminta tolong keluarga atau teman terdekatnya untuk membujuknya. Namun tentu ini tidak berlaku untuk semua kasus.

Kapan harus keluar dari hubungan berbahaya ini?

Jika Anda mencurigai atau bahkan telah mengalami salah satu atau lebih dari bentuk kekerasan di atas, dan sudah melakukan berbagai cara untuk memintanya berhenti namun tidak membuahkan hasil, sebaiknya segera akhiri hubungan tersebut sebelum terlambat.

Meski ini terdengar seperti hal yang jelas untuk dilakukan, banyak korban tidak menyadari bahwa mereka layak diperlakukan dengan hormat, dan karena itu tidak menuntut haknya.

Juga, pertimbangkan apa yang Anda bersedia lakukan untuk dirinya? Apa yang benar-benar tidak akan Anda akan lakukan? Pastikan Anda menyesuaikan permintaan ini dengan kesejahteraan pribadi dan prinsip Anda.

Jangan setuju untuk melakukan hal-hal sederhana untuk sekadar menjaga perdamaian atau menyelamatkan hubungan yang berisiko. Terutama jika dalam hati Anda sudah tahu itu tidak tepat untuk Anda.

Jika Anda berpikir bahwa Anda atau orang terdekat Anda mungkin menjadi korban dari kekerasan dalam pacaran, hubungi hotline pengaduan Komnas Perempuan di +62-21-3903963; nomor darurat polisi di 110; SIKAP (Solidaritas Aksi Korban Kekerasan terhadap Anak dan Perempuan) di (021) 319-069-33; LBH APIK di (021) 877-972-89; atau menghubungi Pusat Krisis Terpadu – RSCM di (021) 361-2261.

Baca Juga:

sumber : hellosehat.com


loading...

Tips Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>